NAMA : RAFLY HARI SANDI
NPM : 59413752
KELAS : 3IA21
MATA KULIAH : DESAIN PEMODELAN GRAFIK
NAMA DOSEN : SYEFANI RAHMA DESKI
Sejarah dan Pengertian Desain Visual
Desain Komunikasi Visual masih
sangat asing terdengar di kalangan masyarakat awam yang biasanya di identikan
dengan tukang print atau tukang buat reklame dan baliho. Sehingga bnayak orang
memandang sebelah mata tentang dunia desain, atau Desain Komunikasi Visual
identik dengan iklan memang tidak salah
tentang pernyataan ini namun hal ini juga tidak benar sepenuhnya karena iklan
hanya salah satu sarana (media) yang dihasilkan oleh Desain Komuikasi Visual.
Sekarang akan saya jelaskan lebih
spesifik lagi tentang Desain Komunikasi Visual (DKV), mari kita mulai dari
definisi tentang DKV itu sendiri,
ditinjau dari asal kata (etimologi) istilah ini terdiri dari tiga kata, Desain
diambil dari kata “designo” (Itali) yang artinya gambar. Sedang dalam bahasa
Inggris desain diambil dari bahasa Latin (designare) yang artinya merencanakan
atau merancang. Dalam dunia seni rupa istilah desain dipadukan dengan reka
bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa ide.
Selanjutnya Komunikasi berarti
menyampaikan suatu pesan dari komunikator ( penyampai pesan ) kepada komunikan
(penerima pesan) melalui suatu media dengan maksud tertentu. Komunikasi sendiri
berasal dari bahasa Inggris communication yang diambil dari bahasa Latin
“communis” yang berarti “sama” ( dalam Bahasa Inggris:common ). Kemudian
komunikasi kemudian dianggap sebagai proses menciptakan suatau kesamaan (
commonness ) atau suatau kesatuan pemikiran antara pengirim ( komunikator ) dan
penerima ( komunikan).
Desain Komunikasi Visual
Sementara kata Visual bermakna
segala sesuatu yang dapat dilihat dan direspon oleh indera penglihatan kita
yaitu mata. Berasal dari kata Latin videre yang artinya melihat yang kemudian
dimasukkan ke dalam bahasa Inggris visual.
Jadi Desain Komunikasi Visual
bisa dikatakan sebagai seni menyampaikan pesan ( arts of commmunication )
dengan menggunakan bahasa rupa ( visual language ) yang disampaikan melalui
media berupa desain yang bertujuan menginformasikan, mempengaruhi hingga
merubah perilaku target audience sesuai dengan tujuan yang ingin diwujudkan.
Sedang Bahasa rupa yang dipakai berbentuk grafis, tanda, simbol, ilustrasi
gambar/foto, tipografi/huruf dan sebagainya.
Serasa Kurang lengkap jika kita
tidak mengulas sedikit tentang sejarah
DKV, Sejak jaman pra-sejarah manusia telah mengenal dan mempraktekkan
komunikasi visual. Bentuk komunikasi visual pada jaman ini antara lain adalah
piktogram yang digunakan untuk menceritakan kejadian sehari-hari pada Jaman Gua
(Cave Age), bentuk lain adalah hieroglyphics yang digunakan oleh bangsa Mesir.
Kemudian seiring dengan kemajuan jaman dan keahlian manusia, bentuk-bentuk ini
beralih ke tulisan, contohnya prasasti, buku, dan lain-lain. Dengan
perkembangan kreatifitas manusia, bentuk tulisan ini berkembang lagi menjadi
bentuk-bentuk yang lebih menarik dan komunikatif, contohnya seni panggung dan
drama; seperti sendratari Ramayana, seni pewayangan yang masih menjadi alat
komunikasi yang sangat efektif hingga sekarang.
Sebagai suatu profesi, Desain
Komunikasi Visual baru berkembang sekitar tahun 1950-an. Sebelum itu, jika
seseorang hendak menyampaikan atau mempromosikan sesuatu secara visual, maka ia
harus menggunakan jasa dari bermacam-macam “seniman spesialis”. Spesialis-spesialis
ini antara lain adalah visualizers (seniman visualisasi); typographers (penata
huruf), yang merencanakan dan mengerjakan teks secara detil dan memberi
instruksi kepada percetakan; illustrators, yang memproduksi diagram dan sketsa
dan lain-lain.
Dalam perkembangannya, desain
komunikasi visual telah melengkapi pekerjaan dari agen periklanan dan tidak
hanya mencakup periklanan, tetapi juga desain majalah dan surat kabar yang
menampilkan iklan tersebut.Desainer komunikasi visual telah menjadi bagian dari
kelompok dalam industri komunikasi – dunia periklanan, penerbitan majalah dan
surat kabar, pemasaran dan hubungan masyarakat (public relations).
Desain Komunikasi Visual baru
populer di Indonesia pada tahun 1980-an yang dikenalkan oleh desainer grafis
asal Belanda bernama Gert Dumbar. Karena menurutnya desain grafis tidak hanya
mengurusi cetak-mencetak saja. Namun juga mengurusi moving image, audio visual,
display dan pameran. Sehingga istilah desain grafis tidaklah cukup menampung
perkembangan yang kian luas. Maka dimunculkan istilah desain komunikasi visual
seperti yang kita kenal sekarang ini.
Adapun Fungsi Desain Komunikasi
Visual yaitu yang pertama sebagai sarana identifikasi.
Fungsi dasar yang utama dari desain
komunikasi visual adalah sebagai sarana identifikasi. Identitas seseorang dapat
mengatakan tentang siapa orang itu, atau dari mana asalnya. Demikian juga
dengan suatu benda atau produk, jika mempunyai identitas akan dapat
mencerminkan kualitas produk itu dan mudah dikenali, baik oleh produsennya
maupun konsumennya. Kita akan lebih mudah membeli minyak goreng dengan
menyebutkan merek X ukuran Y liter daripada hanya mengatakan membeli minyak
goreng saja. Atau kita akan membeli minyak goreng merek X karena logonya
berkesan bening, bersih, dan “sehat”.
Yang Kedua sebagai sarana
informasi dan instruksi
Sebagai sarana informasi dan
instruksi, desain komunikasi visual bertujuan menunjukkan hubungan antara suatu
hal dengan hal yang lain dalam petunjuk, arah, posisi dan skala; contohnya
peta, diagram, simbol dan penunjuk arah. Informasi akan berguna apabila
dikomunikasikan kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat, dalam
bentuk yang dapat dimengerti, dan dipresentasikan secara logis dan konsisten.
Simbol-simbol yang kita jumpai sehari-hari seperti tanda dan rambu lalu lintas,
simbol-simbol di tempat-tempat umum seperti telepon umum, toilet, restoran dan
lain-lain harus bersifat informatif dan komunikatif, dapat dibaca dan
dimengerti oleh orang dari berbagai latar belakang dan kalangan. Inilah sekali
lagi salah satu alasan mengapa desain komunikasi visual harus bersifat
universal.
Dan yang terakhir adalah sebagai
sebagai sarana presentasi dan promosi
Tujuan dari desain komunikasi
visual sebagai sarana presentasi dan promosi adalah untuk menyampaikan pesan,
mendapatkan perhatian (atensi) dari mata (secara visual) dan membuat pesan
tersebut dapat diingat; contohnya poster. Penggunaan gambar dan kata-kata yang
diperlukan sangat sedikit, mempunyai satu makna dan mengesankan. Umumnya, untuk
mencapai tujuan ini, maka gambar dan kata-kata yang digunakan bersifat
persuasif dan menarik, karena tujuan akhirnya adalah menjual suatu produk atau
jasa.
Jika Anda ingin menjadi Desainer
Komunikasi Visual yang baik, anda harus memperhatikan 3 hal dalam Desain
Komunikasi Visual yaitu:
1. Elemen – elemen DKV
2. Unsur-Unsur DKV
3. Prinsip- prinsip DKV
Perbedaan Desain Komunikasi Visual
dan Seni Murni
Seperti yang
sudah saya jelaskan diatas tadi bahwa Desain Komunikasi Visual adalah seni
menyampaikan pesan ( arts of commmunication ) dengan menggunakan bahasa rupa (
visual language ) yang disampaikan melalui media berupa desain yang bertujuan
menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target audience sesuai
dengan tujuan yang ingin diwujudkan. Sedang Bahasa rupa yang dipakai berbentuk
grafis, tanda, simbol, ilustrasi gambar/foto, tipografi/huruf dan sebagainya.
Sedang seni
murni adalah ekspresi jiwa yang bersifat individual, subjektif, dan lebih
ditujukan kepada kepuasan terhadap karya, bukan terhadap fungsi.
Well, bagaimana menurut Anda? Jika ada yang ingin
berbagi atau menambahkan, langsung saja melalui kolom komentar.
Elemen-Elemen Desain Komunikasi Visual
Untuk dapat berkomunikasi secara
visual, seorang desainer menggunakan elemen-elemen untuk menunjang desain
tersebut. Elemen-elemen yang sering digunakan dalam desain komunikasi visual
antara lain adalah tipografi, simbolisme, ilustrasi dan fotografi.
Elemen-elemen ini bisa digunakan sendiri-sendiri, bisa juga digabungkan.
Tidak banyak desainer komunikasi
visual yang sangat “fasih” di setiap bidang ini, tetapi kebanyakan mempunyai
kemampuan untuk bervisualisasi. Seorang desainer komunikasi visual harus
mengenal elemen-elemen ini. Jika ia tidak dapat mengambil sebuah foto tentang
kejadian tertentu, maka ia harus tahu fotografer mana yang mampu, bagaimana
mengemukakan keinginannya dan bagaimana memilih hasil akhir yang baik untuk
direproduksi. Ia juga harus dapat membeli dan menggunakan ilustrasi secara
efektif, dan seterusnya.
Desain dan Tipografi
Tipografi
adalah seni menyusun huruf-huruf sehingga dapat dibaca tetapi masih mempunyai
nilai desain. Tipografi digunakan sebagai metode untuk menerjemahkan kata-kata
(lisan) ke dalam bentuk tulisan (visual). Fungsi bahasa visual ini adalah untuk
mengkomunikasikan ide, cerita dan informasi melalui segala bentuk media, mulai
dari label pakaian, tanda-tanda lalu lintas, poster, buku, surat kabar dan
majalah. Karena itu pekerjaan seorang tipografer (penata huruf) tidak dapat
lepas dari semua aspek kehidupan sehari-hari.
Desain dan Simbolisme
Simbol
sangat efektif digunakan sebagai sarana informasi untuk menjembatani perbedaan
bahasa yang digunakan, contohnya sebagai komponen dari signing systems sebuah
pusat perbelanjaan. Untuk menginformasikan letak toilet, telepon umum,
restoran, pintu masuk dan keluar, dan lain-lain digunakan simbol.
Bentuk
yang lebih kompleks dari simbol adalah logo. Logo adalah identifikasi dari
sebuah perusahaan, karena itu suatu logo mempunyai banyak persyaratan dan harus
dapat mencerminkan perusahaan itu. Seorang desainer harus mengerti tentang
perusahaan itu, tujuan dan objektifnya, jenis perusahaan dan image yang hendak
ditampilkan dari perusahaan itu. Selain itu logo harus bersifat unik, mudah
diingat dan dimengerti oleh pengamat yang dituju.
c Desain
dan Ilustrasi
Ilustrasi
adalah suatu bidang dari seni yang berspesialisasi dalam penggunaan gambar yang
tidak dihasilkan dari kamera atau fotografi (nonphotographic image) untuk
visualisasi. Dengan kata lain, ilustrasi yang dimaksudkan di sini adalah gambar
yang dihasilkan secara manual.
d
Desain
dan Fotografi
Ada dua
bidang utama di mana seorang desainer banyak menggunakan elemen fotografi,
yaitu penerbitan (publishing) dan periklanan (advertising). Beberapa tugas dan
kemampuan yang diperlukan dalam kedua bidang ini hampir sama. Menurut Margaret
Donegan dari majalah GQ, dalam penerbitan (dalam hal ini majalah) lebih
diutamakan kemampuan untuk bercerita dengan baik dan kontak dengan pembaca;
sedangkan dalam periklanan (juga dalam majalah) lebih diutamakan kemampuan
untuk menjual produk yang diiklankan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
http://dgi-indonesia.com/elemen-elemen-dalam-desain-komunikasi-visual/
http://www.desainstudio.com/2010/07/beda-desain-grafis-dan-seni-murni.html



0 komentar:
Posting Komentar